aku terjaga di hamparan pasir luas, dibawah langit hitam dengan sedikit sekali bintang.
haus. itulah yang melanda sepanjang kerongkonganku.
dimanakah oasis itu berada, tanpa peta dan kompas?
oh tuhan, berikanlah oasismu padaku, begitulah kira-kira doa didalam hatiku.
atau setidaknya berikanlah fatamorgana sebagai sebuah harapan semu untukku,
tapak demi tapak kujejekkan kakiku di pasir dingin ini.
desir suara pasir menyeruak mengalahkan semilir angin malam,
dan aku terus melangkah, menuju gugus bintang dibatas cakrawala sana.
setidaknya aku masih hidup pikirku.
haus sudah hilang dengan sendirinya. tampak didepan sana sesosok manusia terduduk diam.
aku bergegas menuju ke arahnya. dalam hatiku, semoga dia membawa air.
tidak kupedulikan pasir masuk ke dalam lipatan celanaku.
aku terus mempercepat langkahku.
dekat..dan semakin dekat saja nampaknya.
aku terengah-engah tak berdaya dihadapan sosok itu.
dia perempuan, sebaya denganku.
dia agak terkejut melihatku, disekanya cepat-cepat air matanya.
"maaf.." ujarku.
"em..iya..eee..gapaa.."jawab perempuan itu.
sejenak aku tertegun, lelaki mana yang tega meninggalkan perempuan secantik dia.
sementara dinginnya malam menerobos tulang-tulangnya,
dan sepi serta merta memeras air matanya sampai kering.
"apa yang kamu lakukan ditempat seperti ini?"tanyaku pelan.
"aku menunggu cintaku yang lepas pergi mencari arah.."jawab perempuan itu sedikit terisak.
"lantas mengapa kau begitu setia?"sambungku.
"aku ingin menjadi perempuan yang baik.."perempuan itu berkata sambil menengadah ke atas.
rasa hausku seketika berubah menjadi iba.
iba akan perempuan didepanku.
tulang pipinya begitu bagus demikian juga dagunya.
sejenak kutarik nafas dalam-dalam, aku duduk disampingnya.
"barada diposisimu sekarang sungguh tidak bisa kubayangkan" aku membuka percakapa.
dia tersenyum perih sebentar.
tak lama kemudian, dia lalu bercerita semuanya.
tentang kehidupannya, masalah dan alasan dia berada di tengah gurun ini.
aku terdiam, pasir berderai lagi.
kubenarkan posisi dudukku.
"dengarkan wahai kau kaum hawa, lihatlah bintang diujung sana"sambil kuarahkan acak ke satu bintang paling terang di sebelah kiri kami duduk.
"bintang itu setia bersinar memberikan arah bagi orang tersesat sepertiku."ujarku.
"begitu juga dirimu, cintamu yang pergi biarkanlah, dia bukan satu-satunya.."
"ada yang pergi ada pula yang datang, begitulah hidup berputar"aku mencoba menghibur.
"tapi itu kukembalikan kepadamu"kataku.
"hidup terlampau singkat dihabiskan untuk menunggu,
lihatlah kedepan, dan mulai mencari bintang untukmu sendiri" ujarku sambil kembali berdiri.
aku tidak mau mengumbar kata-kata lagi.
cukup.
dan aku pamit pada gadis itu.
kembali berjalan menyusuri padang pasir luas mencari oasis.
ketika sudah berjalan beberapa langkah, kusempatkan kutoleh kebelakang.
gadis itu sudah bangkit dan berjalan dengan pasti.
ya..
seorang dewi telah pergi pagi.
mencari miliknya yang entah berada dimana.
dan aku mati di tengah gurun itu.
Tampilkan postingan dengan label dalamfiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dalamfiksi. Tampilkan semua postingan
sebuah cerita tentang dewi pergi pagi...
On: 3.11.08
nun jauh disana, ada seorang gadis ayu penunggang kuda. dia tinggal di sebuah gubuk di tepi sabana. dia tinggal sendirian, hanya dia, kuda dan seekor angsanya.
suatu saat dia menemukan ikan di padang pasir. ikan itu bekedip padanya..
gadis itu terkejut, kemudian ia cepat-cepat membawa ikan itu ke dalam gubuknya..dicarinya sebuah wadah dan dituangkannya air segar, ikan itu dilepaskan kedalamnya....
" kau kuberi nama Lalang..."kata gadis itu.
pada suatu malam, gadis itu menangis sendirian. kemudian ia bergegas mengambil Lalang bersama wadahnya.
" lalang, apakah kau tahu, aku sedang merasakan pelik yang teramat sangat..
aku kesepian..aku ga tau kenapa.....merasa tak berguna lagi"
"tak adakah mesin waktu, atau apalah namanya yang mengantar aku ke tempat yang aku inginkan?" kata si gadis.
Lalang pun diam, ia hanya berlalu-lalang mengambil nafas dengan teratur.
"kaupun tak bisa menyelesaikan masalahku..sama seperti kuda dan angsaku" gadis itu kembali berkaca-kaca.
ditaruhnya kembali si Lalang dan wadahnya di meja sebelah kasurnya. gadis itu keluar dari gubuknya. ditatapnya langit luas, dihirupnya nafas dalam-dalam...
disekanya air mata di pipi indahnya..
yah, kadang bersuka ria sesekali jatuh bercucuran air mata. pada suatu waktu, si gadis ingin melakukan perjalanan yang jauh. dia memutuskan untuk melihat lebih luas dunia tempat dia tinggal..
untuk melakukan hal itu, ditanyainya satu persatu hewan peliharaannya yang telah menjadi teman hidupnya selama ini.
dia bertanya kepada kudanya..
" kuda,,kuda...taukah selama ini aku begitu banyak menyusahkanmu? aku sering memarahimu sedangkan aku membutuhkanmu sebagai teman kemanapun aku pergi..
aku ingin berterima kasih untuk semuanya.
esok aku pergi untuk melihat luasnya dunia di sekelilingku..aku ingin engkau tetap di gubuk kita ini bersama si angsa, dan si lalang..jagalah mereka untukku ya..."sambil sesekali gadis itu mengelus rambut kudanya..
sesaat gadis itu terdiam, dia menemukan hal yang ganjil, hal yang jarang sekali ia temui selama ini..
kemudian pada angsanya dia berkata..
"angsa,,angsa...taukah selama ini aku begitu banyak menyusahkanmu? aku sering memarahimu sedangkan aku membutuhkan telurmu..hehehe aku ingin berterima kasih untuk semuanya.
esok aku pergi untuk melihat luasnya dunia di sekelilingku.. aku ingin kau tetap menurut pada si kuda...
sesaat gadis itu terdiam, dia menemukan hal yang ganjil, hal yang jarang sekali ia temui selama ini..
lalu kepada Lalang si ikan mas, ia sedikit menahan tangisnya..sebuah teman baru yang sebentar lagi akan dia tinggalkan..
"Lalang, terimakasih untuk semuanya..terlambat kau muncul untukku saat ini..mungkin kita bisa mengenal lebih jauh lagi andaikata kau kutemukan lebih dulu...sekali lagi terima kasih untuk menjadi teman yang baik selama ini..."kata gadis itu...
Bersama hilangnya kabut pagi, gadis itu berangkat..di gelapnya pagi, berlomba dengan datangnya mentari di ufuk timur...
menggelar cerita baru..
Langganan:
Postingan (Atom)
