just write it..
On: 8.12.08
there is a rapture on the lonely shore;
there is society, where none intrudes;
by the deep sea, and music in its roar:
I love not man the less, but Nature more..."
- Lord Byron
9.12.08
12.18
semua energi terisi kembali setelah sebungkus penuh nasi kutelan.
hari ini dan entah sampai kapan seterusnya akan kujalani makan sehari sekali.
nikmat, itulah yang kurasakan ketika makan dalam kondisi yang sangat kelaparan.
aku membayangkan bagaiman orang yang tiga hari belum makan, tanpa rokok tentunya,
dan mungkin tanpa tempat tinggal.
sejenak kemudian kupikirkan masak-masak, betapa banyak nikmat yang belum kusyukuri.
menjadi susah sebuah pilihan, mungkin susah dalam persepsi kita,
namun bahagia dan damai bagi mereka.
seperti beberapa waktu lalu kutemui bapak tua tukang patri.
umurnya jelas sudah tua, dan aku yakin dia tahu pekerjaannya bisa dibilang sia-sia sekarang ini.
namun disela-sela langkah kaki rentanya, aku melihat kebahagian tertinggal.
terlihat senyumnya mengembang saat mengisap pelan rokok kreteknya.
dan dia nampak begitu ikhlas menunggu hujan reda disaat aku mengeluh kepada hujan.
mungkin dibalik kesusahan, ada beratus-ratus kebahagian menunggu.
entah itu saat kita berhasil melewatinya, atau ketika kita menjalani dengan tulus.
aku ingat betul, di gerbong ekonomi jurusan bandung-kutoarjo.
disitu aku duduk bersam ratusan orang-orang susah.
mereka tetap tersenyum ketika listrik padam, kereta berhenti sebentar-bentar.
bahkan ketika derik roda kereta keras menjerit ketika dipacu terlalu kencang.
beberapa diantara penumpang kereta, nampak tulus menunggu sampai stasiun tujuan.
dan ketika pagi menjelang kelongokkan kepalaku keluar.
dingin dan butiran embun menerpa seketika, hamparan sawah menyambut.
hal yang tidak aku dapatkan dari balik kaca bus eksekutif.
kesusahan bukan sebuah halangan untuk meraih kebahagiaan.
karena menjadi susah adalah sebuah pilihan untuk meraih bentuk kebahagian lain..
yang sulit digambarkan.
sebuah cerita dalam ruang-ruang maya
On: 26.11.08
9.34 pm
aku menemukan pigura itu tergantung begitu saja
didinding kios berukuran 17" x 12".
menyaru dalam los-los gelap tanpa penjual
aku melihat lama lukisan dalam pigura itu
kosong,
namun berbicara banyak
aku terhenyak pelan
ketika pigura itu bergetar dan perlahan
memunculkan gambar perempuan cantik.
cantik tapi hambar, pikirku.
hambar oleh batas.
batas-batas semu dari penjual pigura.
hahaha..
aku tertawa sinis,
sebentar-sebentar kulihat pigura itu dengan takjub.
darimana penjual itu mendapatkannya.
sebuah pigura berlukiskan perempuan cantik hambar.
dan aku ingin segera pergi.
lampu di los itu sudah dimatikan.
los IV nomer 715,
kutuliskan dalam-dalam di otakku.
dan aku sudah di pintu gerbang pasar.
masuk kedalam sebuah bilik kecil.
seorang petugas tak berwajah mencatat namaku.
dan aku menandatangani buku tamu pasar itu.
sedikit pesan bagi sang empunya pasar.
tetaplah buka ketika libur hari besar, pikirku.
dan aku telah di bus kota, jurusan ufuk selatan pasar itu.
aku membeli pigura itu berapapun harganya, bisik hatiku.
dan pasar itu menghilang di pekatnya asap knalpot bus kota.
pagi buta & teh panas
On: 22.11.08
didepan layar komputer aku masih terjaga.
entah berapa jam lagi aku akan tidur, aku masih belum tau, belum ingin mungkin.
disampingku teh panas baru kubuat. teh celup dua kali pakai dan buang. hahaha.
masih dengan kaos kemarin, celana kemarin dan rambut keramas dua hari yang lalu.
terpampang jelas di layar crt-ku sebuah foto atau gambar ya...seorang perempuan.
perempuan yang cantik sekali menurutku, atau ayu?
cantik dan ayu menurutku berbeda. cantik lebih kepada kesempurnaan bentuk yang fana. muncul karena takdir/keturunan yang tepat. sedangkan ayu, kombinasi cantik 40%, lebihnya adalah kesempurnaan aura dan inner beauty yang pas tidak berlebihan. ditambah bahasa tubuh yang "khas".
para pria pasti tau lah..
teh itu masih mengepul asap panasnya.
keseruput perlahan. nyaman di dalam.
masih dengan foto yang sama dari malam ke pagi begitu seterusnya jika listrik tidak anjlok.
namun di pagi buta ini tampak beda, lain dari biasanya.
entah mengapa aku enggan untuk meneruskan rutinitas ini lagi.
yah, aku bosan. titik.
aku lelah.
seperti teh celup yang sudah berulang kali dipakai, hilang rasanya, hilang warnanya.
cukup pikirku, aku tak bisa lebih jauh.
pagi buta & teh panas itu menjadi saksi bisu, betapa sebuah rasa menjadi Tuhan yang palsu.
menipu sebagian manusia yang lupa diri.
dan di pagi ini aku harus berhenti, entah sampai kapan.
dan teh panasku mulai hangat.
selamat datang hari baru.
novemberkeringat
On: 15.11.08
yah bulan november memasuki hari ke-16, masih dengan hujan-hujannya. anehnya aku masih saja berkeringat. awal bulan ini aku tiba-tiba dihadpkan pada kebijakan bapak kosan baru yang sama sekali diluar logika. yah kebiasaan membayar kewajiban di pertengahan bulan harus dimajukan. dengan alasan untuk bayar ini, bayar itu, bayar apa lah...
padahal kalu dilihat si bapak ini sudah lebih dari cukup, liat saja jumlah kontrakan yang dimilikinya. namun mau tidak mau aku membayar kewajibanku tidak di awal bulan tapi di tengah bulan. dengan bonus sedikit umpatan halus dari si bapak kosan.
sudah cukup jengah sebenarnya, tinggal di kosan dengan kamar sedang, tidak pernah terkena matahari, yah cukuplah untuk sekedar tidur dan tinggal. tapi yang menjadi masalah sekarang adalah hawa ketidakramahan pemilik baru kosan yang begitu panas membuat gerah setiap senin sampai sabtu. gerah diawal bulan pikirku...
minggu pertama bulan ini,
assistensialan.
lagi-lagi aku dan teman-temanku bersikeras menghadapi senin keparat itu dengan susah payah. setelah presentasi akhir bulan lalu yang menyisakan kekesalan yang serupa diantara kami, kita harus menghadapi senin yang sangat terik. terik dengan kewajiban yang aneh, kewajiban yang miskin perhitungan, yang mungkin sah-sah saja kami langgar. sekedar pemenuhan tuntutan moral mungkin. haha. dan senin itu dimulai jam sebelas. jauh dengan kata-kata dosen jam setengah sepuluh. yah, lagi-lagi lagu lama. status quo dosen. mahasiswa = menurut saja biar aman. hahaha. assistensi. bakalan terus menjadi batu loncatan yang bagus. bagus sebagai terapi awal minggu..
minggu kedua bulan ini,
hungrywallet.
setelah bayar sana bayar sini jumlah uang didebetku semakin habis. jatah bulanan yang diukur dengan kebutuhan hidup di kota ini termasuk sedikit itu akhirnya menuju batas terakhir. padahal akhir bulan masih 13 hari lagi. kasihan perutku ini 2 mingu kedepan. belum lagi ada acara di bulan ini yang bakal menarik lebih dalam isi kantongku. hahaha..
mitos mata air uang, berharap nyata..
berkeringat lagi dompetku menuju akhir bulan ini..
batas
On: 31.10.08
batas
Aku berada di tempat yang belakangan ini sering aku kunjungi. Sebuah batas antara yakin dan ragu. Keduanya bercampur. Disitulah aku duduk membuka-buka kembali apa yang telah aku dapat sebelum aku sampai di tempat ini. Menghitung lagi jumlah waktu yang terbuang dibandingkan hasil yang untuk saat ini jauh dari yang pernah aku kira.
Semakin terjal saja apa yang akan aku lewati didepan sana. Entah di terjalnya jalan itu ada berapa turunan yang menyulitkan aku untuk menjaga irama langkahku ataupun tanjakan yang memudahkan sekaligus menyesakkan ketika kakiku mulai lemas dan tak kuasa menopang badanku yang penuh muatan-muatan abstrak. Belum lagi kalau ada tikungan yang membuang jauh kearah luar, yang akan mengacaukan perhatianku.
Disinilah aku mulai merencanakan apa yang sebaiknya aku bawa. Tak cukup hanya sebuah niatan saja dan semua tercapai. Ada sedikit mantra-mantra mungkin untuk menjaga keadaan yang sekarang masih bisa diatasi. Atau mungkin sebungkus mimpi yang bisa dihabiskan saat malam datang.
Aku ingin tidur sebentar dan menemukan diriku ada bersama dirimu yang memakai sayap putihmu di punggungmu. Melihatmu tersenyum mendengar aku mengarang cerita tentang bodohnya diriku. Dan kita terdiam untuk beberapa saat. Disaat itulah aku ingin mengetahuimu lebih jauh.
Dan akupun tertidur di perbatasan itu.
11.03.08 & 15.04.08
11.03.08
malam sudah larut.
aku masih duduk, memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang bisa aku ambil esok hari. Mungkin untuk saat ini masih ada kesempatan kembali seperti beberapa waktu yang lalu. Sulit memang untuk berada di saat ini. Aku masih belum tahu apakah salah untuk menunggu-nunggu hal yang aku sendiri masih ragu. Ya, mungkin aku-lah yang merasa tidak patut untuk berada di depanmu untuk saat ini.
Sambil lalu aku ingin sekali kembali menyadari aku masih belum terlambat dan terus mencoba supaya mengerti. Tidak ada salahnya mencoba. Dan mungkin tidak seperti saat ini hasilnya yang masih saja berputar-putar tidak jelas antara kembali menjadi pengagum atau jelas sebagai pelaku yang jujur memiliki maksud untuk menjadi bagian dari kehidupanmu.
Aku masih belum tahu apakah kamu tahu, mengerti lalu diam saja, menunggu dan pergi, atau bahkan sekedar lalu saja. Yang jelas semakin menuju kesini, batas antara kesabaran dan keputus-asaan tipis sekali.
Aku masih menjaga agar keduanya terpisah. Tapi mungkinkah perasaan ini wajar, seperti apa yang pernah kau katakan bahwa tidak ada yang salah, murni semua terjadi begitu saja. Kita tidak bisa mengelak bahwa kita telah menjadi terlanjur mengagumi salah seorang dari kita entah disadari atau tidak.
Mungkin benar aku harus mencoba dan itulah yang akan kulakukan, mencoba untuk yang pertama kalinya bahwa aku ingin menjadi bagian dari cerita hidupmu.
Seperti bau tanah yang hadir bersama air hujan yang turun sejak tadi siang.
15.04.08
Sudah sekian ratus hari aku menghitung peluang-peluang untuk kembali ke tempat terdekat denganmu. Seakan-akan dirimu semakin jauh hilang, tenggelam bersama lalu-lalang pedagang pasar simpang. Terlihat di depanku sebuah foto dirimu yang diam-diam kusimpan. Ya, aku masih mengagumimu, kagum atas mimpi-mimpimu, ceritamu, caramu menerima aku, memandangmu, dan caramu ketika terkejut melihatku menelusuri matamu.
Sementara akupun heran mengapa seorang sepertimu yang bagitu berharga sulit sekali untuk dimiliki. Ataukah aku terlalu pengecut untuk menunjukkan ketertarikanku padamu. Aku masih ingin melihat bajumu yang malam itu untuk terakhir kalinya aku melihatmu. Aku juga masih ingin kau mengisi kembali pikiranku yang kosong dengan mimpi yang tempo hari kita tuliskan bersama-sama.
Kemarin aku melihatmu begitu gembira, namun dimatamu aku melihat masih ada bayang-bayang diriku yang tak mungkin kau tepis. Aku tahu aku keliru, salah dalam beberapa hal. Tapi sampai kapan aku akan menemukan waktu yang tepat, menemukan waktu dimana kau kembali membuka percakapan dengan hening sejenak, mengharapkan aku membelai rambut lurus hitammu?
Atau ketika kau membawakan senyumanmu ketika aku kehujanan?
